Gebyar Keroncong

Oleh Isaac Nugroho 

Tanggal 5 November kemarin milis Keroncong mengadakan kopdar pertamanya di acara Gebyar Keroncong di Studio 7 TVRI. Kesimpulan yang bisa diambil dari pertemuan yang dilakukan sebelum acara dimulai adalah sebagai berikut:

  1. Perlu ada kopdar selanjutnya. Ini perlu sekali, ibaratnya api seperti api tidak perlu terus menerus tetapi harus ada, untuk mengakrabkan diri
  2. Kemudian akan ada buletin keroncong. Menurutku ini juga perlu untuk, apa ya istilahnya, memeratakan informasi seputar keroncong kepada para anggota milis dan juga untuk yang belum menjadi anggota bisa menjadi melek mengenai adanya milis ini dan keroncong itu sendiri
  3. Selanjutnya adalah kaos. Lagi-lagi aku juga setuju dengan ide ini
  4. The last but not the least adalah sudah waktunya membuang anggapan bahwa keroncong itu untuk orang-orang yang sudah tua. Mudah-mudahan misi ini (harus) bisa terlaksana

Salut buat mas Adhit yang sudah menyiapkan form untuk biodata bagi yang menghadiri acara kopdar ini

Setelah ngobrol, foto dan menikmati ole-ole dari bandung, kami bersama-sama mengikuti acara Gebyar Keroncong.
Berikut adalah lagu sesuai urutan dan yang membawakan:

  1. Lgm. Putri Solo, Eni Haryono
  2. Stb. Ukir, Sukardi
  3. Tak Ingin Sendiri (pop), Dian Pisesha
  4. Lgm. Di Bawah Sinar Rembulan, Eny Haryono
  5. Mencintaimu (pop), Lia Emilia
  6. Lgm. Sepasang Mata Bola, Dian Pisesha
  7. Kr. Kemayoran, Lia Amelia
  8. Lgm. Sangkuriang, Tuti Maryati
  9. Kr. Jiwa Merana, Sukardi
  10. Alusia (Daerah), Tuti Maryati + penonton

Mbak Eni Haryono membuka acara dengan membawakan Putri Solo dengan suara yang meliuk-liuk, membawa penonton terbuai dan bahkan ada yang ikut menggumamkan liriknya (buat yang hafal). Buaian ini hampir tidak terbawa saat membawakan Di Bawah Sinar Bulan Purnama. Entah apakah karena aransemennya sangat agresif atau hanya sekedar kesalahan teknis, awal-awal lagu agak susah dicerna karena suara biola yang cenderung disonan. Untunglah setelah “huru-hara” di awal tadi, sudah bisa mengenakkan telinga. By the way, pada saat refrain yang benar langit hijau atau langit biru ya? Soalnya refrain yang dinyanyikan “.. menghiasi langit biru”

Sepertinya saya tidak perlu berkomentar mengenai Pak Sukardi yang juga Ketua HAMKRI Pusat. Stambul Ukir dibawakan dengan semangat dan ceria. Kemudian Kr. Jiwa Merana dibawakan dengan manis pula. Memuaskan telinga pendengarnya.

Mbak Dian Pisesha turut memeriahkan acara Gebyar Keroncong kali ini dengan membawakan lagunya yang sudah terkenal sejak dulu, Tak Ingin Sendiri. Hal yang mengagumkan buat saya adalah mbak Dian bisa mengadaptasikan suaranya sehingga menyatu dengan keroncong sebagai musik pengiringnya. Demikian juga saat beliau membawakan Sepasang Mata Bola. Mantab.

Lia Amelia mengawali penampilannya dengan membawakan Mencintaimu-nya Kris Dayanti. Terus terang, nuansa mix ‘n’ match dari mbak Dian tidak muncul dalam penampilan dari mbak Lia. Demikian juga saat membawakan Kr. Kemayoran, terasa biasa saja.

Mbak Tuti membawakan Sangkuriang dengan cengkok sinden, sungguh mempesonakan.

Aransemen yang dinamis yang ditampilkan oleh pengiring dari artis-artis HAMKRI pimpinan mas Lilik sangat ciamik dengan mengambil aikon-aikon dari aliran musik lain dan tetap mempertahankan struktur dari lagunya.

Secara keseluruhan acara Kopdar dan Gebyar keroncong ini sungguh merupakan pengalaman yang mengesankan dan semoga kopdar ini merupakan awal dari sesuatu yang besar untuk perkembangan keroncong selanjutnya.

Hidup Keroncong!

Tinggalkan komentar

Filed under Peristiwa

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s