Parodi Bengawan Solo

Oleh : Sigit Yulianto

 Lagu Bengawan Solo diciptakan Oleh Gesang tahun 1940 di Solo, Menurut
beliau lagu itu diciptakan persis dipinggir Sungai Bengawan Solo yang
kemudian menjadi judul lagu yang dibuatnya. Pak Gesang tidak menyangka
bahwa lagu ini dikemudian hari akan membawanya sampai ke negeri Jepang.
Lagu dengan durasi 4.47 menit ini memang fenomenal, meskipun lirik lagunya
sederhana tetapi mengena di telinga para pecandu keroncong, saat itu dan
sekarang. Liriknya mudah dihapal, bahkan mungkin, rata rata orang Indonesia
mengenal lagu ini.

“Bengawan solooo… riwayatmu iniiiii… sedari dulu jadi perhatian
insanii.. musim kemarauuu.. tak sebrapa airmuuuuu…… dimusim hujan air
meluap sampai jauhhhhh…. Mata airmu dari solooooooooo.. terkurung gunung
seribuuuuu… air mengalir sampai jauuuuuuhhh.. akhirnya kelauuuuuuttt…
itu perahuuu.. riwayatmu duluuuu.. kaum pedaganggg slaluuu… naik itu
perahuuuuuuuu….”

Adalah Katsunori Tanaka, seorang jepang yang berkeinginan untuk membuat
album kompilasi lagu karya Gesang, dikemudian hari melahirkan satu album
kompilasi karya karya Gesang. Ibu Waldjinah yang bersuara bening jernih
menjadi lead vocal dalam album ini. Album ini termasuk special karena tidak
hanya producernya yang dari Jepang, tetapi beberapa musisi pendukungnya
adalah orang orang jepang… Bagus sekali… Petotan mereka tidak kalah
dengan musisi keroncong asli Indonesia. Di Album ini juga, Bu Wald berduet
dengan P’Gesang menyanyikan Lagu Bengawan Solo, kombinasi suara rendah bass
pak Gesang terasa klop dengan tenor tinggi Bu Wald yang belum ada
tandingannya.

Mengenai Bengawan Solo ini, saya punya kesan tersendiri yang sampai
sekarang masih sering membuat tersenyum bila mengingatnya. Adalah Alun Alun
kota Temanggung, dimana pada malam minggu biasanya banyak orang berkumpul
disana. Didepan Masjid Agung, dibawah pohon beringin yang rindang, suasana
yang menyenangkan bagi muda mudi untuk duduk duduk berpasangan. Tidak
terkecuali kami sekeluarga, sambil memperhatikan si kecil yang sibuk
bermain mobil mobilan, kita bisa kembali seperti masa masa pacaran kita…

Saat kita lagi asyik asyik itulah tiba tiba kami dikagetkan munculnya 2
pengamen didepan kita, “Nyuwun Sewu Pak… Bengawannnnn Solooooo…
riwayatmuu iniiii… begitu mereka tanpa ba bi bu langsung keroncongan
Bengawan Solo didepan kita… Suaranya semprak ditambah vocalisnya tepuk
tangan… kita malah sedikit jengkel dengan penampilan mereka…

Saya mulai berpikir bagaimana bisa ngerjain mereka, maklum mantan ora jahil
jadi kalau tidak jahil malah agak aneh…kesempatan ini tentu saja tidak
boleh disia siakan… sengaja mereka tidak saya kasih uang dulu, karena
biasanya kalau dikasih uang langsung pergi. Begitu mereka selesai
menyanyi.. saya bertanya,
“Mas… bisa nyanyi apa saja kamu?…
“Waah.. ya banyak Pak!…
“Kamu mau tidak saya “Tanggap” [ istilah orang jawa kalau pingin bayar
secara khusus]?…
“Bagaimana Pak?…
“Kamu saya “Tanggap”… Nyanyi keroncong di sini untuk saya..”
“Disini? Mau saja Pak…” Pe-de juga anak ini.. pikir saya
“Satu lagu kamu mau dibayar berapa?…
“Lha terserah Bapak saja… kita ngikut”
“He..he..he..”Aku ketawa dalam hati..” Kena kamu sekarang…”
“Satu lagu seribu rupiah ya, Mas?…
“Baik Pak…
“Nih.. Sepuluh ribu!.. lagu “Bengawan Solo” semua ya!’
“Bengawan Solo Semua Pak?… kedua pengamen itu saling lihat,  mulai sadar
kalau dikerjain rupanya..
“Ya… ayo segera dimulai… yang enak nyanyinya ya!…

Crung..crung.. crung.. mulai okulele di bunyikan, lagu pertama aman… lagu
kedua aman… lagu ketiga aman.. lha mulai lagu Bengawan Solo keempat..
kelihatannya dia mulai kelelahan . nyanyinya mulai tidak pas… kadang
kadang tinggi.. kadang kadang pelan…Aku cuek saja.. dengan  gaya sok
menikmati … padahal, tidak enak didengar sama sekali… disamping, istri
saya mulai  senggol senggol… “Kasihan Mas..” begitu dia berbisik di
telingaku..”Biar saja… dia khan lagi kerja” jawabku tidak kalah cuek…
he..he..he..

Pas… lagu kedelapan… Vocalisnya bilang sama saya..” Pak.. Sampun
nggih… kula ngelak-e niki..”
“Ya sudah… terima kasih ya..” jawab saya sambil menahan tawa, melihat
vocalisnya menelan ludah.. kelihatannya memang kehausan beneran
itu…hi..hi..hi..hi.. rasain,lagi pacaran diganggu…..Bayangkan saja,
kalau satu lagu butuh 4 menit, apa tidak setengah jam lebih… Bengawan
Solo delapan kali… tidak ompong sudah beruntung itu khan…

Tinggalkan komentar

Filed under Serba-serbi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s